Posted by: rudolvo | November 15, 2008

Etika fotografi Jurnalistik

Dilema ketika kita seorang pewarta foto dalam sebuah situasi. Situasi dimana kita dihadapkan pada 2 pilihan, mengambil gambar atau menolong seseorang yang sedang butuh pertolongan darurat. Pada beberapa kasus, seorang pewarta foto mengesampingkan naluri humanisme nya,, dia merelakan nyawa seseorang dan lebih memilih mengambil gambar sesorang yang mungkin sedang sekarat. Tapi di pihak lain ada beberapa pewarta foto yang memilih untuk membantu korban, dan merelakan profesinya sebagai pewarta foto. Suatu kasus, pembagian zakat di Indonesia yang menyebabkan 21 orang meninggal akibat terjepit dalam tumpukan manusia. Dan pada saat yang sama seorang fotografer berada di depan kerumunan tersebut. Tepat didepan matanya, dia menyaksikan maut menjemput kerumunan ibu-ibu yang terjepit diantara kerumunan itu. Dalam beberapa detik fotografer tersebut terdiam sejenak lalu segera bereaksi dan mengambil 1-2 gambar kejadian mengerikan itu. Lalu segera fotografer itu menarik tangan seorang Ibu yang berteriak minta tolong didepan matanya. Tapi dia tak kuasa. Begitu kerumunan itu dibubarkan, baru terlihat sekita 20 orang terhimpit dalam kerumunan itu, bertumpuk-tumpuk. Muncul pertanyaan, apakah sebaiknya kita terus memotret kejadian yang mengerikan itu? Dengan harapan kita mendapat gambar yang eksklusif di “Halaman Depan”. Tetapi kita juga disodorkan pertanyaan “Dimana rasa kemanusiaanmu saat itu?” . Menarik untuk dibahas, dan menarik juga untuk diperdebatkan. Beberapa forum di luar negeri,beberapa fotografer mengatakan bahwa profesi fotografer merupakan profesi yang tidak boleh terseret dalam situasi yang emosional. Kasus badai tsunami di aceh merupakan contoh yang cukup menarik, setumpuk mayat dihadapan para fotografer, ketika fotografer hendak menolong 1, bagaimana dengan yang lain? Tidak akan selesai dengan ribuan mayat yang ada. Tidak selesai juga tugas kita sebagai pewarta foto. Hari jumat malam, kasus ini dibahas dalam sebuah acara talkshow favorit saya, Kick Andy. DIbahasnya masalah ini, sebuah dilema besar bagi seorang pewarta foto. Di acara tersebut diundang juga salah 1 fotografer idola saya, Oscar Motuloh. Redaktur Kantor Berita Antara. Oscar mengatakan pada saat seperti itu memang sebuah situasi yang menyulitkan, tetapi pada hakikatnya, ketika situasi itu terjadi, sampai tim medis atau aparat keamanan belum memberikan bantuan, kita hendaknya “meninggalkan sejenak” profesi kita sebagai pewarta foto, Tolong dulu korban-korban tersebut. Soal eksklusif atau tidak nya foto kita?. Belum tentu ketika kita memutuskan untuk tidak menolong korban-korban tersebut, belum tentu juga foto-foto kita eksklusif. Mungkin setelah tim medis atau aparat datang untuk memberikan bantuan, barulah kita mengambil gambar kejadian tersebut. Oscar menambahkan “dengan menampilkan gambar tim medis membantu korban-korban, kita bisa membuat foto tersebut ekslusif, tanpa harus menyisihkan rasa humanisme kita ketika melihat kejadian seperti itu”. Banyak perdebatan yang terjadi baik di dalam negeri ataupun di luar sana. Soal etika fotografi ini sangat menarik. Layak untuk dibahas. Bagaimana jika anda berada dalam posisi itu?? Humanisme? atau Profesionalisme?

Etika Fotografi, Rudolvo. 15 November 2008

Advertisement

Responses

  1. lha kl jiwa kita yg terancam gmn mas?
    moto dl apa lari?
    :p

  2. lari ae dim……ben selamet!!
    podo durung kawine kan/

    hahahahahaaaaa
    and_


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.