Posted by: rudolvo | November 16, 2008

Editing dalam Jurnalistik Fotografi

Dalam kurun waktu 3 tahun, Editing foto menjadi marak di kalangan fotografer. Terutama yang berada di jalur “Art Photography”. Dalam Art Photography, editing foto benar-benar di bebaskan, secara bebas, sampai pada konteks Digital Imaging. Beberapa fotografer kenamaan Indonesia memamerkan karya-karya mereka yang benar-benar sensasional, bagaimana tidak? Lihat gallery Kevin Pinardy, atau Darwis Triadi dan beberapa nama fotografer lainnya yang menjadikan proses Editing foto menjadi tumpuan mereka untuk menghasilkan karya. Bagaimana dengan Dunia Jurnalistik? Apakah di Jurnalistik tidak diperbolehkan mengedit foto?? Jawabannya menarik, Boleh, tapi dengan beberapa syarat dan kententuan berlaku. Sang Pewarta foto tidak diperkenankan melakukan proses editing yang “berlebihan”, hanya pada bagian tertentu saja, misalnya Warna, Eksposure, dan editing ringan lainnya. Hanya Adjustment warna saja yang di perbolehkan. Bagaimana dengan croping?? Pada jurnalistik Croping masih diperbolehkan asal tidak merubah fakta yang ada.  Nah pada dunia Jurnalistik, ada yang membedakan proses editing fotonya. Itu adalah Digital Imaging, Proses Digital Imaging pada jurnalistik sangat diharamkan. Dari sinilah terjawab pertanyaan-pertanyaan sejauh mana proses editing pada Dunia Jurnalistik. Semoga dengan ini, pertanyaan-pertanyaaan tersebut bisa terjawab.

Rudolvo 16 November 2008

Advertisement

Responses

  1. hmmmmmm……gimana yah??
    sebenarnya saya juga interest dengan scene jurnalistik. Foto-foto jurnalis yang benar-benar jurnalistik justru bisa lebih dramatis dan konservatif daripada foto dengan kategori art. Sebab, dalam foto jurnalistik, terdapat esensi 5W + 1H…..yang semestinya menjadi dasar filosofi dan caption di fotonya. Nah, Point itulah kadang yang tidak disadari bahkan cenderung dilupakan oleh para fotografer jurnalis saat ini yang terkesan diburu deadline.

    di lain sudut mata, saya juga tertarik dengan foto-foto art….dalam arti, foto art yang tidak hanya memaparkan speklist camera saja, prosses editing heboh saja, atau memamerkan nude body belaka. tetapi, foto art yang memiliki legalitas konsep dan kejujuran pemikiran dari sang fotografernya. Namun, menurut saya, foto art yang indah itu, bukan berati juga harus membutakan teknik….teknik dann konsep menjadi nomor satu, apabila itu sudah dikantongi, maka editing yang berlebih tak pelu diusung berlebihan.

    heheheheeee……
    bagaimana mas rudolv??

    and_


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.